Salah satu pertayaannya
yang saya sertakan pada tema kali ini yakni, ustadz saya mau tanya? Masjid di
tempat saya dananya banyak, tapi dana yang banyak tersebut seringkali hanya
digunakan oleh pengurus masjid untuk membangun fisik masjid semata, sedangkan
pembinaan TPA/TPQ cenderung asal jalan, remaja kadang ada kadang tidak, trus
program pemberdayaan ummat pun tak berjalan dengan baik dan lain sebagainya.
Kemudian sang penanya memambahkan lagi, lalu bagaimana solusinya masjid di
tempat saya ustadz ,tolong diberikan jawaban dan solusinya?
Pembaca sekalian,
ketika mendapatkan pertanyaan ini, saya hanya bisa memberikan jawaban yang
singkat, yang tentu saja kurang memuaskan bagi penanya. Jawaban saya yakni, ini
lah realita masjid kita hari ini, jika masjid dipegang oleh pengurus masjid
yang hanya pandai membangun fisik masjid semata.
Kemudian saya tambahkan lagi, solusinya hanya
satu yakni cari ketua /pengurus masjid yang “pandai” membangun ummat. “Pandai”
disini tidak harus memiliki gelas S1 atau S2 ataupun seorang dosen Perguruan
Tinggi. Sebab banyak realita hari ini, dengan banyaknya gelar belum tentu
memiliki pemahaman yang benar bagaimana membangun ummat disekitar masjid dengan
baik.
Maka, jika pengurus
masjid dipimpin oleh mereka yang hanya memiliki gelar semata, sedangkan
pemahaman dan ilmunya untuk membangun ummat tidak punya, maka yang terjadi
yakni, ketika dirinya diamanahi mengelola masjid, tentu hanya mendasarkan pada
konsep teoritis semata, yang sangat jauh dari harapan ummat di sekitar masjid.
Terlebih lagi jika Ketua Takmir/pengurus masjid tersebut enggan untuk belajar
dari orang lain atau meningkatkan kemampuannya. Untuk itu, jika hal ini terjadi
pada masjid kita, maka ujung-ujungnya yang akan dilakukan Ketua
Takmir/pengurus masjid kita, tentu sudah bisa ditebak, yakni akan
berorientasi membangun fisik masjid semata.
Kenapa demikian ? Sebab
membangun fisik masjid adalah perkara yang mudah dilakukan, asal ada dana semua
orang bisa melakukannya, tanpa konsep dan pemikiran yang matang pun bisa.
Waktunya pun cenderung singkat dan hasilnya bisa membuat orang kagum dengan
Ketua Takmir/pengurus masjinya karena kehebatannya membangun fisik masjid yang
megah. Hal ini sangat berbeda jika membangun kemandirian dan generasi ummat,
membutuhkan waktu yang sangat lama, butuh kesabaran dan keistiqomahan dan
cenderung tidak nampak hasilnya secara kasat mata.
Maka, ketika
pembangunan masjid berhasil dibangun dengan megah, orang akan bisa menilai
bahwa dirinya seakan-akan telah menjadi Ketua Takmir/pengurus masjid yang
berhasil mensejahterakan jama'ah dan ummat Islam disekitar masjid, padahal
kenyataannya tidaklah demikian.
Pembaca sekalian,
dialog diatas adalah sekelumit dari problematika masjid kita saat ini, maka
problematika sebagaimana pertanyaan di atas, tidak ada solusi lain kecuali :
1. Kita mencari pengganti Ketua Takmir Masjid yang selama ini
pandainya hanya membangun fisik masjid semata, dengan Ketua Takmir Masjid yang
pandai membangun ummat dan peduli dengan kondisi ummat disekitar masjid atau regenerasi pergantian ketua takmir masjid.
2. Atau
kita harus bisa mendorong Ketua Takmir Masjid di tempat kita
saat ini, agar menjadi Ketua Takmir Masjid yang pandai membangun ummat, jika
Ketua Takmir Masjid pandai membangun ummat, tentunya dia akan sangat
berhati-hati dalam mengelola dana masjid. Dirinya akan berpikir 1.000 x untuk
membangun fisik masjid, sebelum jama'ah dan masyakatat sekitar masjid sejahtera
melalui masjidnya.
Pembaca sekalian, mungkin kita
bertanya
bagaimana caranya untuk bisa menjadi Ketua Takmir Masjid yang pandai membangun
ummat ? Untuk bisa menjadi Ketua Takmir Masjid yang pandai membangun ummat itu
TPS (Tidak Pakai Sulit) dan TPL (Tidak Pakai Lama), siapapun bisa, asal anda
punya peradigma (cara pandang) yang tepat dalam mengurus/mengelola masjid. Apa
paradigma tersebut ? Paradigma tersebut saya istilahkan dengan “Jangan lakukan
3 hal”, yakni :
1. JANGAN
simpan Kas Masjid di Bank/ diendapkan di Bendahara Masjid semata
2. JANGAN
berpikir untung dan rugi terhadap dana masjid, jika itu digunakan untuk
pemberdayaan ekonomi ummat disekitar masjid kita.
3. JANGAN
takut habis jika dana tersebut seluruhnya disalurkan untuk ummat yang
membutuhkan, sebab yang memberi dana hanya Allah Swt.,
Jika paradigma ini kita miliki, Insya Allah kita
akan berhasil menjadi Ketua Takmir Masjid yang pandai membangun ummat. Jika telah
berhasil membangun ummat, jangan lupakan pembangunan fisik masjid seperlunya
saja dan penuh kehati-hatian, misalkan jika sholat berjama'ah maghib atau Isya'
saja tempat masih banyak yang kosong, kenapa harus dilebarkan? Jika atap masjid
saja masih kokoh, kenapa haris direnovasi total ? dll
Kesimpulan : Ummat hari ini membutuhkan Ketua
Takmir Masjid yang pandai membangun ummat, meskipun mencari Ketua Takmir Masjid
yang pandai membangun ummat bukan perkara mudah untuk dilakukan. Semoga dengan
paradigma Jangan Lakukan 3 hal, sebagaimana yang saya sampaikan di atas
memberikan pencerahan dan perbaikan bagi masjid kita hari ini. Sehingga
nantinya akan banyak muncul Ketua Takmir Masjid yang pandai membangun ummat,
yang akan menganti Ketua Takmir Masjid yang hanya bisa membangun fisik Masjid
semata. Ketua Takmir Masjid yang pandai membangun ummat…..ku tunggu
kehadiranmu…. Ngak pakai lama ya ? …..Wallahu 'alam
Membangun fisik masjid
adalah perkara yang mudah dilakukan, asal ada dana semua orang bisa
melakukannya, tanpa konsep dan pemikiran yang matang pun bisa. Waktunya pun
cenderung singkat dan hasilnya bisa membuat orang kagum dengan Ketua
Takmir/pengurus masjinya karena kehebatannya membangun fisik masjid yang megah.
Hal ini sangat berbeda
jika membangun kemandirian dan generasi ummat, membutuhkan waktu yang sangat
lama, butuh kesabaran dan keistiqomahan dan cenderung tidak nampak hasilnya
secara kasat mata.
.
PELATIHAN
DAN PENDAMPINGAN
Pembentukan
& Optimalisasi Baitul Maal Masjid
(Tidak
Pakai Lama) & (Tidak Pakai Sulit)
Hub
: 0823 2474 5151
.jpg)
