BAB II
REALITAS ANTARA MASYARAKAT, LEMBAGA MUSLIM & MASJID
Masyarakat
muslim adalah bagian yang tak terpisahkan dari masjid, hampir setiap hari kaum
muslimin senantiasa mengunjungi masjid sebagai komitmennya seorang mukmin. Walau
hanya segelintir orang, hampir bisa dipastikan masjid akan senantiasa ada
pengunjungnya, terlebih lagi jika hari Jum’at telah tiba, semua kaum muslimin
dengan penuh kesadaran dan antusias hadir di masjid untuk menunaikan sebuah
kewajiban syar’i yakni sholat Jum’at berjama’ah.
Dari
sini kita bisa melihat bahwa kaum muslimin dan masjid adalah dua hal yang tak
mungkin terpisahkan. Ketika masjid berdiri, disana pasti ada kaum muslimin yang
berusaha untuk mengelola dan memakmurkannya. Begitu pula, jika di suatu daerah
ada segelintir kaum muslimin, maka mereka sudah bisa dipastikan akan
mengusahakan berdirinya sebuah masjid walaupun hanya masjid yang sederhana.
Spirit dan motivasi tersebut muncul tak lain karena semua telah di atur oleh
Allah Ta’alla dalam Al Qur’an dan
Sunnah Rasulullah Shollahu alaihi wa salam, sehingga sepanjang waktu dan zaman, antara
kaum muslimin dan masjid tak akan mungkin terpisahkan.
Pembaca
sekalian, sekalipun antara kaum muslimin dan masjid pasangan yang sangat ideal
dan serasi serta tak mungkin terpisahkan,
tidak serta merta kaum muslimin yang senantiasa memakmurkan masjid ataupun yang
ada disekitar masjid bisa mendapatkan manfaat dari berdirinya masjid di sekitar
lingkungannya. Banyak kasus lapangan yang memberikan bukti nyata, bahwa setelah masjid berdiri dengan megah dan kokoh serta
mampu mendapatkan kas masjid yang melimpah, masyarakat muslim justru hidup
dalam kesusahan dan kebingungan untuk sekedar mencari solusi hidupnya.
Masjid
yang selama ini bisa jadi solusi tak
mampu diharapkan dan tak berdaya mengatasi problematika ummat muslim di sekitar
masjidnya sendiri. Mungkin anda heran, kok
bisa masjidnya megah, ditambah
dengan dana yang melimpah, tapi masyarakatnya justru hidup menderita dan tidak
mendapatkan kesejahteraan dari masjidnya ? Jawaban atas pertanyaan tersebut di atas tak lain disebabkan karena dua
hal yakni :
Pertama, karena banyak pengurus masjid kita hari ini yang tak mampu mengelola
masjidnya dengan baik, hal ini disebabkan banyak faktor, tetapi faktor yang paling dominan yakni bahwa menjadi Pengurus/Takmir Masjid kebanyakan tidak didasari atas kemampuan
mengelola masjid dengan baik. Dan biasanya menjadi Pengurus/Ketua Takmir Masjid atas dasar hal yang remeh dan
sederhana, antara lain :
1. Hanya karena dirinya yang mengawali
berdirinya masjid, maka dirinya otomatis dinobatkan atau menobatkan dirinya sendiri untuk jadi Pengurus/Ketua Takmir Masjidnya
2. Atau hanya karena dirinya orang
yang paling banyak menyumbang dana pembangunan masjid, maka otomatis dirinya
yang dinobatkan/menobatkan menjadi Pengurus/Ketua Takmir Masjid atau minimal yang menentukan
kebijakan masjid
3. Atau ada
juga karena merasa dirinya wakil dari organisasi massa (ormas)
tempat sang pewaqif mewakafkan tanahnya untuk masjid tersebut, maka dirinya
otomatis bisa menjadi Pengurus/Takmir
Masjid seumur hidupnya, walaupun ada yang lebih mampu dan masih banyak alasan lainnya yang serupa.
Pada
intinya bahwa menjadi Pengurus/Ketua Takmir Masjid kebanyakan tidak atas dasar kemampuan
mengelola masjid dengan baik, hal ini tentu berujung pada pengelolaan masjid yang
asal jalan dan tak memiliki Visi dan Misi yang jelas terhadap masjid dan
masyarakatnya. Bahkan program kerjanya pun sering
kali tak jelas, sehingga tidak bisa di ukur apakah pada saat
dirinya menjadi Pengurus/Ketua Takmir Masjid
berhasil atau gagal. Akhirnya, mayoritas para Pengurus/Takmir Masjid mampunya hanya membangun fisik masjid semata dan tak punya
kemampuan membangun ummat dengan baik, yang berujung tidak sejahteranya masyarakat
di sekitar masjid, walaupun masjid megah dan memiliki dana yang melimpah.
Kedua, banyak pengurus masjid hari ini yang tak memahamii realitas masyarakat
muslim di sekitar masjidnya sendiri secara baik, sehingga empati dan kepedulian
terhadap masyarakat muslim masih sangat kurang. Untuk mendukung point kedua ini
coba anda tanyakan pada para Pengurus/Ketua Takmir Masjid kita hari ini, bagaimana sebenarnya realita masyarakat
muslim di sekitar masjid yang dipimpinnya, niscaya anda tak akan mendapatkan
jawaban yang memuaskan. Karena memang kebanyakkan rutinitas Pengurus/Ketua Takmir masjid hanya
datang dan pulang dari masjid semata, tak lebih dari itu.
Jarang
kita jumpai Pengurus/Ketua Takmir Masjid yang
berusaha untuk menyelami kondisi masyarakat muslim di sekitarnya, sehingga
peran sebagai pemimpin ummat benar-benar wujud dalam realita harian dan tidak
hanya sebatas retorika di dalam masjid semata. Mungkin, ada diantara Pengurus/Ketua Takmir Masjid yang beralasan bahwa dirinya sudah tidak punya waktu
untuk bisa mendatangi, menengok dan memantau kondisi masyarakat muslim di
sekitar masjid yang dipimpimnya, jika demikian alasannya kenapa dirinya mau
menjadi Pengurus/Ketua Takmir Masjid ? Inilah, gambaran nyata bahwa menjadi Pengurus/Ketua Takmir Masjid belum di padang sebagaimana amanah
dari Allah Ta’alla yang suata saat nanti akan
di pertanggungjawabkannya. Dan implikasi dari persoalan di atas, banyak Pengurus/Ketua Takmir masjid yang lebih memilih membangun fisik
masjid dengan megah dan mewah, dari pada membangun umat disekitar masjid dengan
istiqomah dan kesabaran.
Pembaca sekalian, jika kita melihat ambisi kebanyakan Pengurus/ Ketua Takmir masjid hari ini dalam membangun fisik masjid rasanya kurang pas jika ternyata masih banyak masyarakat sekitar masjid yang membutuhkan uluran bantuan. Justru para Pengurus/Ketua Takmir masjid membangun fisik masjid dengan dana ratusan juta rupiah. Apakah tidak lebih baik, dana tersebut di prioritaskan untuk di salurkan pada masyarakat muslim yang membutuhkan ?
Bersambung BAB II bagian 02 ....

