Konflik lagi,
konflik lagi itu pemandangan yang sering kita lihat dan saksikan di kebanyakan
masjid-masjid kita hari ini. Konflik seakan-akan menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari masjid. Baik itu konflik
antar pengurus dengan pengurus masjid lainnya maupun pengurus dengan jamaah
masjid. Dan lebih ironis lagi mayoritas konflik yang muncul di picu dengan
persoalan-persoalan yang remeh dan receh. Maka anda jangan heran jika konflik
yang terjadi di kebanyakkan masjid kita saat ini (walaupun tidak semuanya) telah
menjadi pemandangan wajar di lihat, bahkan ada yang beranggapan kalau di masjid
tidak ada konflik rasanya kurang menarik, Naudzubillahi min dzalik
Padahal, jika kita mau merenung banyak komunitas, Kumpulan
warga, organisasi seringkali justru mampu rukun dan guyup menjalani rutinitasnya dengan
baik, bahkan berkumpul dengan non muslim atau mereka yang jauh dari nilai-nilai
islam saja mampu menyatu dan membangun kebersamaan atas dasar toleransi, tapi kalau
sudah di masjid persoalan yang remeh dan receh seringkali menjadi persoalan
yang memicu lahirnya konflik internal masjid yang tak pernah tuntas.
Pembaca sekalian, coba kita renungkan dalam-dalam masjid di sekitar kita saat ini pasti terjadi konflik di dalamnya, baik yang muncul dipermukaan maupun yang hanya perang dingin semata. Dan konflik yang terjadi biasanya bertahun-tahun dan tanpa solusi, sehingga menganggu kelangsungan program dan kemakmuran masjid ke depan.
Dalam sebuah acara training baitul maal masjid yang diseleggarakan oleh salah satu masjid di kota Solo. Ada beberapa peserta yang ikut menghadiri acara Training dan mengajukan pertanyaan. Pertanyaan ini mencerikan seputar kondisi di masjid di mana dirinya tinggal. Singkat cerita terjadilah dialog singkat antara aku dengan peserta training tersebut. Saya bertanya :”Bapak dan rombongan dari perwakilan masjid mana?” Kemudian ketua rombongan itu menjawab: “Kami dari masjid A ustadz, tapi kami bukan perwakilan resmi masjid, kami hanya jamaah biasa dan kami datang atas inisiatif sendiri. Saya kemudian menanjutkan pertanyaan : “Lha memangnya kenapa pak dengan masjidnya, kok datang tidak dengan pengurus masjidnya ?” Ketua rombongan tadi melanjutkan jawaban : “Masjid kami saat ini sedang dilanda konflk antar pengurus masjidnya ustadz dan kami tidak tahu harus kemana dan bagaimana mencari solusi atas persoalan di masjid kami saat ini.”
Pembaca sekalian, mendengar keluh kesah
jamaah ini saya hanya bisa prihatin dan sekaligus semakin penasaran ingin
mengetahui lebih jauh sebab musabab terjadinya konflik di masjid tersebut.
Kemudian saya bertanya kembali :”Kira-kira sejak kapan pak konflik antar
pengurus masjid itu terjadi ?” Ketua Rombongan itu menjawab :”Kami tidak tahu
pastinya ustadz.”. Saya bertanya lagi :”Menurut perkiraan bapak kira-kira kapan
ya pak konflik antar pengurus di masjid bapak akan terakhir ?” Ketua Rombongan
itu menjawab kembali :”Tidak tahu ustadz.” Kemudian saya bertanya kembali
:”Kira-kira dengan cara apa bapak dan rombongan menyelesaikan konflik di masjid
bapak?” Kembali ketua Rombongan itu menjawab :”Tidak tahu ustadz.”. Kemudian
saya bertanya lagi dengan sedikit penekanan dan keheranan “Berarti konflik di
masjid bapak adalah konflik abadi dong” …kemudian disambut dengan tertawa
peserta training baitul maal masjid yang hadir saat itu.
Pembaca sekalian, jika kita renungkan
dengan seksama kisah di atas ternyata konflik internal tanpa kita sadari telah
menguras energy kita selama ini, sehingga kita tak mampu menjadi pribadi atau
team yang produktif. Coba anda banyangkan jika konflik itu terjadi di masjid
dekat rumah kita dan kita sebagai seorang muslim harus menghadiri masjid untuk
menunaikan sholat jamaah 5 waktu di masjid tersebut, saya yakin suasana hati
kita tentu tidaklah nyaman di saat kita hadir masjid.
Konflik itu telah menjadikan kita tidak
produktif, yang pada akhirnya kita tak akan mampu menjadi pengurus/takmir
masjid yang berprestasi, prestasinya hanya mampu membangun dan merenovasi
masjid semata, sementara prestasi dalam pemberdayaan umat di sekitar masjid nol
besar, terlebih lagi memunculkan program-program yang inovatif sebagai umpan balik
ummat yang belum terketuk hatinya datang ke masjid. Kegiatan pun hanya sebatas
menyambut Ramadhan dan idhul Fitri serta hari raya Idhul adha semata. Iya ini lah
konflik yang terjadi di masjid kita saat ini, yang tak mampu kita atasi dan tak
mampu kita carikan solusi.
Lalu dengan apa kita menyelesaikan
konflik internal tersebut ? Menurut saya penyelesaian konflik itu awalnya kita
harus menciptakan “musuh bersama”. Dan “musuh bersama” itu adalah penderitaan
dan derita umat di sekitar masjid melalui pembentukan dan optimalisasi baitul
maal masjid. Contoh mudahnya yakni memberikan santunan pada anak yatim. Saya
amat yakin bahwa seluruh jamaah yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda
pasti akan sepakat bahwa atas program tersebut. Untuk itu program keummatan
khususnya terkait dengan kesehjahteraan umat seharusnya lebih kita ke depankan
dan kita kelola dengan sebaik-baik sampai mendapatkan keberhasilan yang nyata
dan terukur dengan baik.
Tentunya program keummatan ini harus
melibatkan semua potensi jama’ah yang ada melalui Baitul Maal Masjid, sehingga kitab
bisa kerja Bersama dan menyatu menjadi bagian dari kemakmuran masjid, Wallahualam
bishowab
.jpg)

