Manajemen masjid tema
yang saya angkat tulisan saya kali ini, sebelum kita ulas, ada beberapa
pertanyaan yang ingin saya sampaikan pada para pembaca sekalian, yakni, kira-kira berapa jumlah jama'ah masjid yang
aktif di masjid anda saat ini ? Siapa saja orangnya?Berapa keluarganya?
Bagaimana kondisi keluarganya Dll ? Termasuk wajib Zakat atau berhak menerima
Zakat kah mereka ?
Atas pertanyaan tersebut
diatas, saya amat yakin kita tidak akan mendapatkan jawaban yang jelas pada
kebanyakkan masjid kita hari ini, sebab kebanyakan masjid saat ini manajemennya
masih terkesan amburadul. Bahkan dalam persoalan administrasi surat menyurat
saja terkesan asal buat, ambilah contoh banyak masjid hari ini jika ingin
mengundang jamaah untuk pengajian atau acara masjid biasanya undangannya hanya
sebatas foto copy saja, kalau ditanda tangani oleh pengurus masjid dengan tanda
tangan asli mungkin kesannya masih sangat baik, tapi hal ini tidak, kebanyakan tanda tangannya pun juga foto copy
an. Coba anda bandingkan pada saat kita membuat undangan rapat pertemuan di
kantor atau instansi kita atau pada saat kita membuat undangan untuk
pernikahan. Niscaya undangan yang asalnya dari masjid tertinggal cukup jauh.
Apa ya kira-kira sebabnya ? …….
Pembaca sekalian, inilah
gambaran manejemen masjid kita hari ini, manajemen surat menyurat saja terkesan
asal-asalan, belum lagi jika kita melihat data jumlah jama'ah masjid belum
tentu dimiliki, belum lagi berapa jumlah peduduk yang beragama Islam dengan
segala tingkatan dan kondisinya, perpustakaan masjid hanya dijadikan pajangan
dan tidak memiliki orientasi yang jelas untuk mencerdaskan ummat, takmir masjid
tidak memiliki rencana program yang jelas dalam kurun waktu tertentu, misalnya
3 tahun ke depan, sehingga ummat juga bisa mengukur dan memberikan penilaian
atas kinerja para takmir/pengurus masjid. Tidak seperti saat ini, banyak
kinerja para takmir/pengurus masjid yang tidak bisa di ukur, karena manajemen
yang diterapkan masih menggunakan manajemen asal jalan.
Wal hasil, manajemen
masjid seharusnya menjadi prioritas garapan awal bagi para takmir/pengurus
masjid saat ini sebelum menjalankan program lainnya. Sebab tanpa manajemen yang
baik, mustahil masjid akan berhasil mendapatkan kemajuannya. Terlebih lagi bagi
takmir masjid yang telah memimpin masjid puluhan tahun (bakhan sejak awal
berdirinya masjid) telah menobatkan diri menjadi takmir masjid, sedangkan
penantaan manajemen masih saja amburadul, tentunya hal ini tidak cukup hanya
kita lihat dan dengar semata, tapi juga membutuhkan adanya penilaian dan
perbaikan atas kinerja takmir tersebut. Maka, tidak salah memang kalau
manajemen masjid masih kalah baik dengan manajemen RT.
Untuk itu, manajemen
masjid harus lebih baik dari manajemen RT, tidak cukup hanya sebagai slogan
tanpa realisasi, hanya saja memang kebanyakan kita lupa atau tidak tahu
bagaimana membangun manajemen masjid yang baik,padahal kalau kita mau lihat
pontensi masjid sangat besar guna mewujudkan dan memperbaiki manajemen tersebut
secara baik. Pertanyaannya, mengapa kebanyakan masjid tidak mampu mewujudkan
manajemen yang baik ? Ada beberpa sebab yang mendasari, antara lain:
1. Kebanyakan para takmir masjid saat ini
sudah tidak lagi produktif, baik dari sisi pikiran, tenaga maupun waktunya,
padahal penataan awal manajemen masjid membutuhkan produktifitas yang tinggi
2. Waktu dan kesempatan kita mengelola masjid
hanya merupakan waktu-waktu sisa, sehingga memikirkan masjid tidak optimal
termasuk menata manajemen secara baik
3. Masjid tidak mampu mengumpulkan
orang-orang yang pakar dan punya kemampuan dari kalangan jamaah masjid itu
sendiri untuk terlibat membangun masjid, kebanyakan potensi mereka dibatasi,
sehingga terkesan hanya dimanfaatkan semata dan tidak mungkin menjadi pengurus
tetap masjid. Karena memang tidak sedikit para takmir yang khawatir jika
posisinya sebagai seorang takmir masjid digeser, dengan kehadiran orang-orang
yang lebih pakar dan berilmu.
4. Kebanyakkan para takmir masjid hari ini
masih menerapkan manajemen asal jalan, hal ini bisa kita lihat kebanyakkan
masjid hari ini tidak memiliki rencana program yang jelas, baik program jangka
pendek, menengah maupun panjang. Yang ada hanya menjalankan rutinitas ibadah,
rutinitas hari raya islam dan rutinitas hari besar Islam semata, sehingga
kinerjanya tidak bisa di ukur oleh ummat secara umum
Ke 4 hal tersebut penulis
kira sudah lebih dari cukup untuk memberikan alasan atas sulitnya diterapkannya
manajemen yang baik di masjid kita hari ini, terlepas dari itu semua kita harus
menyadari bahwa mengelola masjid saat ini bukanlah persoalan yang mudah, tapi
membutuhkan kesungguhan dan kemampuan untuk mengelola, karena masjid saat ini
merupakan benteng terakhir bagi ummat untuk menjaga aqidah dan akhlaq disaat
rumah-rumah kaum muslimin saat ini sudah tidak aman lagi untuk membentengi
aqidah dan akhlaq anak-anak dan istri kita. Hanya masjid yang saat ini kita
andalkan, tapi kalau kita lihat masjid hari ini, kita merasa prehatin dengan
kondisinya. Penulis berharap, semoga para takmir/pengurus masjid saat ini tidak
memandang bahwa menjadi seorang takmir/pengurus masjid adalah jabatan yang
harus dipertahankan, terlebih lagi yang menginginkan menjadi takmir seumur
hidup.Wallahu alam bishowab

