Tema tersebut diatas
bermula dari perkataan temanku saat kami sedang ngobrol santai selepas sholat
di masjid, ya ....sengaja perkataan ini ku jadikan sebagai tema, karena aku
melihat ada hal yang sangat menarik perhatianku, terlebih lagi jika tema tersebut
dikaitkan dengan kondisi ummat yang ada saat ini. Kalau dipikir-pikir kandungan
tema tersebut mengisyaratkan pada kita bahwa orang-orang dulu di lingkungan
rumah temanku dengan masjidnya terdapat kedekatan yang sangat, sampai-sampai
dalam persoalan hutang saja, orang pada saat itu datangnya ke masjid untuk
mencari solusi, apalagi dalam persoalan lain ? pikirku dalam hati. Merenungi
tema tersebut di atas aku hanya bisa membayangkan, bahwa masjid-mashid saat itu
benar-benar telah menyatu dengan ummat, sehingga ummat pun dekat dengan
masjidnya.
Akan
tetapi saat pengambaran diatas ku coba kaitkan dengan realita masjid-masjid
kita hari ini, wah...saya merasa prihatin, sebab pengambaran tersebut sangatlah
jauh dari yang kita harapkan selama ini. Sehingga jangankan membantu melunasi
hutang bagi ummat yang tidak mampu melunasinya, mengelola masjid untuk bisa
peduli dengan ummat sekitar saja teramat berat dilakukan, maka wajar saja jika
masjid-masjid saat ini sepertinya telah kehilangan jatidirinya yang
sesungguhnya, yang ada hanya membangun fisik dan kegiatan glamor serta tanpa
memiliki arah dan target perbaikan ummat yang jelas.
Mungkin
kita bertanya, mengapa masjid-masjid hari ini tidak mampu memerankan fungsi
keummatan dengan baik, sebagaimana yang telah dilakukan masjid-masjid dulu
seperti yang dikatakan temanku? Salah satu faktornya barangkali tidak
berfungsinya Baitul Maal Masjid. Coba anda saksikan dan perhatikan
masjid-masjid saat ini tentang pengelolaan Baitul Maalnya, kebanyakan nol besar
alias tidak berjalan sama sekali, kalaupun ada yang berjalan, jarang yang
dikelola dengan serius. Maka anda jangan heran jika Baitul Maal Masjid terkesan
hanya formalitas dipapan pengumuman masjid, selebihnya tidak ada
kiprahnya.
Tragis
memang kalau boleh saya katakan, jika di dalam masjid saja ternyata Baitul
Maalnya tidak berjalan sama sekali, lalu bagaimana mau membantu ummat kalau
Baitul Maal saja tidak fungsi ? Sedangkan kas masjid yang terkadang mencapai
jutaan rupiah pun juga tidak bisa dimanfaatkan atau disalurkan untuk ummat ?
Sekali lagi saya katakan ironis, Sebagai contoh bagi anda jika tidak ada Baitul
Maal di masjid anda, bagaimana jika ada seorang musafir yang dalam perjalanan
jauh sedangkan dirinya kehabisan bekal dan tidak ada yang bisa memberikan
pinjaman? kemana dirinya harus mencari solusi ...? Seharusnya musafir tersebut
bisa datang ke masjid untuk mendapatkan jatah sebagai orang yang berhak
menerima zakat, lalu bagaimana jika masjidnya saja sering terkunci dan bukanya
hanya diwaktu sholat? Ditambah lagi tidak adanya dana Baitul Maal Masjid ?
Mungkinkah musafir ini akan terbantu melalui masjid ? Jawabanya sudah pasti
tidak, karena kebanyakan masjid saat ini terkesan kurang ramah terhadap para
pengujungnya, jangankan untuk membantu musafir, untuk buang hajat saja
seringkali kita mengalami kesulitan, sebab semua pintu WC terkunci (terkuncinya
dengan alasan untuk menjaga kebersihan, padahal sudah ada tenaga kebersihan)
coba anda banyangkan jika yang mau buang hajat tersebut benar-benar seorang
muslim dan musafir lagi ....kan kasihan untuk sekedar buang hajat saja
kesusahan, terlebih lagi di malam hari.
Kalau
kita pikir-pikir, sebenarnya masjid saat ini ada dana tidak sih ...kok tidak
mampu mewujudkan Baitul Maal Masjid ? Berbicara soal dana, wah.....anda jangan
tanya ...masjid-masjid kita saat ini kebanyakkan memiliki saldo di atas Rp 5
juta (untuk ukuran masjid sedang), kalau anda kurang percaya, coba telusuri
masjid disekitar anda, niscaya anda akan sependapat dengan saya. Tetapi anda
jangan heran, kalau dana yang banyak tersebut, saat ini terkesan hanya sekedar
terpampang di papan pengumuman, dan kurang optimal pemanfaatannya, mungkin
hanya sebagai pelengkap semata, bahwa masjid harus ada papan pengumuman dan
laporan keuangannya (biar pantas dikatakan masjid yang transparan dan
akuntanbilitasnya baik), tapi ada pula lho ......masjid memiliki papan pengumuman
yang besar dan bagus....tapi laporan keuangannya tidak pernah ditulis sama
sekali (mungkin biar tidak ketahuan kali...., termasuk masjid yang miskin dana
atau masjid yang dananya melimpah)
Kondisi yang sebagaimana yang saya gambarkan di
atas, yakni masjid yang tidak mampu mewujudkan Baitul Maal, seharusnya tidak
perlu terjadi.....jika kita benar-benar ingin memperbaiki ummat melalui Baitul
Maal Masjid, Mengapa? :
1. Karena sebenarnya potensi dana yang masuk
ke kas masjid selain rutinitasnya bisa diharapkan, besarnya pun sebenarnya
cukup lumayan untuk mewujudkan Baitul Maal Masjid, contohnya Infaq Jumatan
masjid.
2. Seharusnya tidak perlu terjadi adanya
pengendapan dana atau dana yang tidak termanfaatkan diluar batas kewajaran,
sebab kebanyakan rata-rata masjid saat ini memiliki kas mencapai kurang lebih
Rp 5 jutaan ke atas dan dana tersebut hanya mengendap/kurang diopotimalkan
untuk ummat
3. Karena kebutuhan pokok masjid, kalau
dihitung-hitung tidak akan mencapai Rp 1 juta/bulan, paling-paling untuk masjid
ukuran sedang kebutuhan dana hanya pada kisaran Rp 200.000,00 s/d Rp.
300.000,00/bulan saja. Perhitungan ini hanya untuk listrik masjid, tenaga
kebersihan, transport khotib dan acara pengajian yang sederhana)
Jika
kebutuhan pokok/bulan ini bisa kita buat aman dalam waktu 5 bulan, maka
kebutuhan pokok masjid hanya sebesar Rp 300.000,00 x 5 bulan = Rp 1.500.000,00
(untuk kurun waktu 5 bulan ke depan). Sedangkan apabila masjid memiliki saldo
mengendap Rp 5.000.000,00 ini berarti besarnya dana yang mengendap (yang
seharusnya bisa dimanfaatkan untuk ummat) sebesar Rp 5.000.000,00 - Rp.
1.500.000,00 = Rp. 3.500.000,00.
Lalu yang jadi
pertanyaan, atas dasar apa dana yang mengendap tersebut tidak
dimanfaatkan/disalurkan untuk ummat? ...Takut habis ..? Sebenarnya tidak ada
alasan dana tersebut tidak segera disalurkan, apalagi jika alasan tersebut
hanya berlandaskan ketakutan-ketakutan semata. Mengendapnya dana kas masjid
merupakan tanggungjawab para pengurus masjid saat ini, baik dihadapan manusia
maupun Allah Swt, terlebih lagi jika ada masyarakat sekitar masjid yang sangat
membutuhkan dana, misalmya untuk berobat, makan atau lainnya, sedang masyarakat
tersebut telah berusaha untuk mencari dana kemana-mana tapi tidak mendapatkan
hasil, disatu sisi ternyata dana kas masjid yang terpampang dipengumuman sangat
melimpah, tentunya hal ini sangat kontral dan kurang relevan dengan fungsi yang
seharusnya diperankan masjid, yakni memberikan perhatian ummat. Untuk itu, jika
kasus yang saya gambaran diatas benar-benar terjadi dilingkungan masjid kita
dan hal sangat mungkin terjadi, tentu hal ini merupakan tamparan yang sangat
memalukan bagi pengelolaan masjid-masjid kita saat ini.
Maka
dari itu dana kas masjid yang tidak dimanfaatkan untuk ummat dan hanya sekedar
disimpan tentunya menjadi tanggungjawab dan amanah yang besar dipundak para
takmir/pengurus masjid saat ini dan suatu saat pasti akan dimintai
pertanggungjawabannya, karena memang tidak mudah menjadi Takmir/Pengurus masjid
hari ini, selain dibutuhkan keikhlasan yang tulus, ternyata kepakaran dan
kemampuan juga menentukan maju mundurnya ummat di sekitar masjid, terkhusus
lagi yang mampu mengelola dana kas masjid secara baik. Maka jika anda seorang
Takmir/ Pengurus Masjid tapi tidak mampu mengurus dan mengelola masjid dengan
baik, memang sebaiknya mundur dan menyerahkannya pada orang yang lebih mampu
untuk mengelolanya, karena dengan menyerahkan pada orang yang lebih mampu akan
menyelamatkan diri anda dihadapan Allah dan tentunya ummat akan semakin baik
ditangan orang yang memang pantas untuk memimpinmenjadi takmir/pengurus masjid.
Wallahu a’lam bishowab
.........Masjid yang tidak mampu mewujudkan Baitul Maal,
seharusnya tidak perlu terjadi..... jika kita benar-benar ingin memperbaiki
ummat melalui Baitul Maal Masjid, Mengapa?
:
1. Karena sebenarnya potensi dana yang masuk ke
kas masjid selain rutinitasnya bisa diharapkan, besarnya pun sebenarnya cukup
lumayan untuk mewujudkan Baitul Maal Masjid, contohnya Infaq Jumatan masjid.
2. Seharusnya tidak perlu terjadi adanya
pengendapan dana atau dana yang tidak termanfaatkan diluar batas kewajaran

